Mengenal kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya di tanah Jawa Barat
Peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang menjadi bukti sejarah kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat.
Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu yang berdiri pada abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi di wilayah Jawa Barat. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti.
Beberapa prasasti peninggalan Tarumanegara antara lain Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Tugu, dan Prasasti Cidanghiang. Raja yang paling terkenal dari kerajaan ini adalah Purnawarman yang dikenal sebagai raja yang bijaksana dan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.
Kerajaan Tarumanegara memiliki pengaruh yang cukup besar dalam penyebaran agama Hindu di Jawa Barat. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah sekitar Bogor, Jakarta, dan Banten saat ini.
Baca Selengkapnya di WikipediaKerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda Pajajaran adalah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di wilayah Jawa Barat dari abad ke-7 hingga abad ke-16 Masehi. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda yang sebelumnya telah ada.
Pajajaran mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Pada masa pemerintahannya, kerajaan mengalami kemakmuran dan stabilitas politik yang baik.
Kerajaan Pajajaran akhirnya runtuh setelah diserang oleh Kesultanan Banten pada tahun 1579 M. Peninggalan kerajaan ini antara lain Prasasti Batutulis, Prasasti Kebantenan, dan Situs Taman Sri Baduga di Bogor.
Baca Selengkapnya di Wikipedia
Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan Pajajaran (sekarang Bogor).
Situs peninggalan Kerajaan Galuh di daerah Ciamis, Jawa Barat.
Kerajaan Galuh adalah kerajaan Hindu yang berdiri di wilayah Jawa Barat sekitar abad ke-7 Masehi. Kerajaan ini merupakan pecahan dari Kerajaan Kendan setelah terbagi menjadi Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda.
Kerajaan Galuh memiliki hubungan yang erat dengan Kerajaan Sunda, dan pada akhirnya kedua kerajaan ini bersatu membentuk Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Kerajaan Galuh diperkirakan berada di daerah Ciamis sekarang.
Beberapa raja yang pernah memerintah Kerajaan Galuh antara lain Wretikandayun, Mandiminyak, dan Sanjaya. Peninggalan sejarah kerajaan ini masih dapat ditemukan di daerah Ciamis dan sekitarnya dalam bentuk prasasti dan situs purbakala.
Baca Selengkapnya di WikipediaKerajaan Salakanagara atau Kerajaan Salaka adalah kerajaan mitos yang dipercaya terletak di bagian barat Pulau Jawa. Kerajaan ini diklaim sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Menurut Naskah Wangsakerta tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Ibu kota dari kerajaan ini yaitu Rajatapura yang disamakan dengan Argyre dalam catatan Ptolemaeus di tahun 150 M.
Sejarah Kerajaan Salakanagara diragukan kebenarannya karena tidak didukung oleh sumber primer yang valid. Akibatnya, berbagai tulisan mengenai kerajaan ini lebih dianggap sebagai legenda, mitos, atau bahkan sekadar cerita fiksi tanpa bukti yang kuat.
Munculnya Kerajaan Salakanagara bersumber pada karya sastra asal Cirebon, yaitu Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, yang merupakan bagian dari Naskah Wangsakerta dan masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Adapun mengenai keberadaan sejumlah tinggalan arkeologis seperti situs Cihunjuran, Lebak Kosala, hingga Lebak Cibedug yang diklaim sebagai peninggalan Kerajaan Salakanagara justru mencerminkan kebudayaan Austronesia, sehingga tidak sejalan dengan argumen dalam Naskah Wangsakerta yang menyebutkan bahwa Salakanagara sebagai kerajaan Hindu.
Baca Selengkapnya di Wikipedia
Letak kerajaan ini masih diperdebatkan. Namun, ada sebuah pendapat menyatakan bahwa pusat Kerajaan Salakanagara berada di daerah Teluk Lada, Pandeglang.
Bendera Kesultanan Cirebon yang asli, Bendera Macan Ali, tersimpan di Museum Leiden, Belanda, meskipun ada upaya untuk mengembalikannya ke Indonesia. Di Indonesia, ada duplikat atau replika bendera tersebut yang dapat ditemukan di Keraton Kasepuhan.
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan di daratan utara pulau Jawa bagian barat pada abad ke-15 dan 16, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa
Kesultanan Cirebon didirikan di Dalem Agung Pakungwati sebagai pusat pemerintahan negara islam kesultanan Cirebon, letak dalem agung pakungwati sekarang menjadi Keraton Kasepuhan.
Kesultanan Cirebon erat kaitannya dengan sosok Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Lampung[8] dan Jawa bagian barat.
Baca Selengkapnya di WikipediaKerajaan Kandiawan atau Kendan adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Tatar Sunda (Dibawah Kekuasaan Kerajaan Medang Kamulan) dari abad ke-6 sampai abad ke-7 masehi. Pusat kerajaannya saat ini berada di wilayah administratif desa Nagreg Kendan dan Citaman, kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.
Maharaja Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535–561 M). Oleh karena itu, ia dihadiahi daerah Kendan (saat ini berada di Nagreg, Bandung),
Resiguru Manikmaya, dinobatkan menjadi seorang Rajaresi di daerah Kendan. Sang Maharaja Suryawarman, menganugerahkan perlengkapan kerajaan berupa mahkota Raja dan mahkota Permaisuri. Semua raja daerah Tarumanagara, oleh Sang Maharaja Suryawarman, diberi tahu dengan surat.
Baca Selengkapnya di Wikipedia
Kebanyakan orang mengira Petilasan Situs peninggalan Kerajaan Kendan terletak di bukit batu teras yang ada di Kp. Kendan. Padahal sebenarnya Petilasan ini terletak di atas bukit Gunung Sanghyang Anjung, tepatnya di belakang bukit teras Kendan atau bila berjalan menggunakan kendaraan bermotor kita harus memutar melewati Kp. Pojok dan perkebunan bakom.