Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat. Didirikan oleh Raja Jayasingawarman dan mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Purnawarman. Pusatnya berada di sekitar Bekasi–Bogor sekarang. Peninggalan terkenal berupa prasasti (Prasasti Ciaruteun, Kebon Kopi, Tugu, Jambu, dll.) yang menggunakan aksara Pallawa. Kerajaan ini terkenal dengan pembangunan irigasi besar bernama Sungai Gomati, yang membantu pertanian rakyat.
Lanjutan dari Tarumanegara setelah runtuhnya kerajaan tersebut. Berpusat di wilayah Pakuan Pajajaran (sekarang Bogor). Raja terkenal: Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) yang membawa kerajaan pada masa keemasan. Kerajaan Sunda dikenal sebagai kerajaan agraris dan maritim yang makmur. Runtuh setelah terjadi Perjanjian Sunda–Portugis di Malaka dan kemudian penyerangan oleh Kesultanan Banten serta Cirebon pada abad ke-16.
Awalnya merupakan pecahan dari Tarumanegara yang berdiri di wilayah timur Jawa Barat (Ciamis–Tasikmalaya). Raja pertamanya adalah Wretikandayun. Galuh kemudian sering disebut bersama Sunda sebagai Kerajaan Sunda–Galuh, karena keduanya bersatu pada masa Prabu Siliwangi. Galuh punya hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah, bahkan pernah dipengaruhi Mataram Kuno. Banyak legenda rakyat Sunda berasal dari wilayah Galuh.
Berpusat di daerah Ciamis, dengan ibu kota di Astana Gede Kawali. Sering dianggap sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Galuh pada masa selanjutnya. Peninggalan utama berupa prasasti Kawali yang berisi pesan moral raja kepada rakyatnya. Kawali dikenal sebagai daerah subur dan menjadi salah satu pusat kebudayaan Sunda Kuna.
Salah satu kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Didirikan oleh Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) sekitar abad ke-15. Cirebon berkembang sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. Hubungan politiknya erat dengan Demak, juga menjadi penyeimbang antara Sunda Pajajaran dan Kesultanan Banten. Hingga kini, peninggalan pentingnya adalah Keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.
Awalnya bawahan Cirebon, lalu berkembang menjadi kerajaan Islam besar di Jawa Barat bagian barat. Didirikan oleh Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati. Banten terkenal sebagai pusat perdagangan lada internasional di Asia Tenggara. Puncak kejayaan pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (abad ke-17). Runtuh akibat campur tangan Belanda (VOC) dan konflik internal kerajaan. Peninggalannya adalah Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, dan Keraton Kaibon.